<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Garis Harian</title>
	<atom:link href="http://mudebersah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mudebersah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Nov 2010 02:32:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mudebersah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bfb86705c62dd17ed2f12338fa3d3288?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Garis Harian</title>
		<link>http://mudebersah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mudebersah.wordpress.com/osd.xml" title="Garis Harian" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mudebersah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Agar Anak Patuh</title>
		<link>http://mudebersah.wordpress.com/2010/11/21/anak/</link>
		<comments>http://mudebersah.wordpress.com/2010/11/21/anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2010 02:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudebersah</dc:creator>
				<category><![CDATA[ruhani]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mudebersah.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saat arisan keluarga, ada seorang Tengku, disebut juga Kiyai atau seorang Mubaligh, berceramah. Bila anak kita ingin patuh dan senang kepada orang tuanya, maka harus dilakukan tiga poin sebagai berikut: Sering makan bersama-sama dengan anak Sering melakukan shalat berjamaah dengan anak. Minimal dilihat oleh anak. Bila kita sering ke masjid untuk berjamaah, bisa shalat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=64&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin saat arisan keluarga, ada seorang Tengku, disebut juga Kiyai atau seorang Mubaligh, berceramah. Bila anak kita ingin patuh dan senang kepada orang tuanya, maka harus dilakukan tiga poin sebagai berikut:</p>
<ul><span id="more-64"></span></p>
<li>Sering makan bersama-sama dengan anak</li>
<li>Sering melakukan shalat berjamaah dengan anak. Minimal dilihat oleh anak. Bila kita sering ke masjid untuk berjamaah, bisa shalat sunnat berjamaah</li>
<li>Sering membaca Al-Quran di depan anak. Kalau bisa bersama-sama dengan anak.</li>
</ul>
<p>Ini adalah tuntunan dari Rasulullah SAW. Saat itu datang seorang  sahabat menanyakan kenapa anaknya sering sekali tak patuh kepadanya.  Maka keluarlah amanah dari Rasulullah SAW seperti di atas.</p>
<p>Ya, kalau dengan bahasa zaman saat ini. Komunikasi dan kebersamaan itu penting untuk mendidik keluarga yang baik.</p>
<p>Poin lain adalah, rumah adalah tempat segalanya. Tak heran, Rasulullah SAW menyatakan, Rumahku Surgaku.</p>
<p>Ya, semoga saya bisa amalkan ketiga poin di atas, <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mudebersah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mudebersah.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=64&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mudebersah.wordpress.com/2010/11/21/anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>4.613241 96.846710</georss:point>
		<geo:lat>4.613241</geo:lat>
		<geo:long>96.846710</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0e2f4ddf664dbe357aa467e2bc8c57f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudebersah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalah</title>
		<link>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/kalah/</link>
		<comments>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/kalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 16:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudebersah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mudebersah.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Angin malam menyerbu tiap lekuk, menghunjam ke tulang dan sendi di pergelangan tanganku yang tidak dapat kututup dengan baju usang yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari ukuran yang biasa kupakai. Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan mengeluh, meskipun ribuan nyamuk beserta dengungannya juga ikut melemahkan tekadku. Malam ini aku akan menyonsong masa depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=44&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angin malam menyerbu tiap lekuk, menghunjam ke tulang dan sendi di pergelangan tanganku yang tidak dapat kututup dengan baju usang yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari ukuran yang biasa kupakai. Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan mengeluh, meskipun ribuan nyamuk beserta dengungannya juga ikut melemahkan tekadku. Malam ini aku akan menyonsong masa depan setelah terpuruk begitu dalam </p>
<p>Tidak, gangguan kecil ini kucoba yakini sebagai anugerah dan pertanda dari Allah untuk mempertegas bahwa aku masih bisa berseliweran di atas muka bumi ini, tidak seperti ayah, ibu, tetangga, dan hampir sebagian besar warga kampungku yang telah lenyap tertelan gelombang yang apabila diliat dari sisi manapun dari otakku tetaplah sebuah gelombang yang maha jahat.</p>
<p>Tidak, kesabaranku malam ini adalah tiket yang paling menentukan menuju masa depan yang semoga saja bisa lebih cemerlang. Malam ini aku bertekad, takdir dan tsunami tidak akan mampu mematahkan semangatku untuk menggapai jenjang kehidupan dimana aku bisa masuk dalam golongan berada di atas garis kemiskinan dan di kolom pendidikan tertera lulusan perguruan tinggi ketika di sensus.<br />
<span id="more-44"></span><br />
Jika panggilan nasibku memang harus menjadi rakyat jelata, maka biarkanlah aku mengakhiri malam ini dengan harapan, aku dapat menjadi tulang punggung bagi diriku sendiri. Allah tidak pernah meremehkan hamba yang terus berdoa dan berusaha. Doaku malam ini di atas L 300 yang sedang berlari kencang menembus kegelapan dan dinginnya udara kota singkil menuju medan adalah semoga nenek tua renta yang sedang merintih kesakitan di bangku belakang yang telah di susun sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah ranjang, tidak meregang nyawa di perjalanan, agar aku bisa sampai ke medan tanpa harus membayar, karena mobil ini telah dicarter oleh tetanggaku untuk membawa neneknya itu ke rumah sakit di kota tersebut. Jadi aku hanya menumpang.</p>
<p>Tega&#8230; Iya, kuakui doaku terdengar terlalu tega bagi mereka yang tidak sedang menghadapi kegamangan karena ditinggal mati kedua orang tua yang selama ini terus menopang dan memasok kiriman uang serta kebutuhan bulananku selama tinggal di kontrakan. Orang tua yang mati tiba-tiba karena tertelan gelombang laut yang murka bukanlah bayangan seorang anak manusia manja dan bodoh sepertiku. Aku seperti dilemparkan ke sebuah hutan di mana setiap pohonnya tidak kukenal, aku tersesat tidak bisa kembali pulang.</p>
<p>Terlebih karena aku tidak punya uang, dan orang tuaku sama sekali tidak meninggalkan warisan. Belakangan kuketahui, rezeki ayahku setiap bulannya selalu tertelan oleh kebutuhan dan rengekan abangku, aku serta adikku yang setiap kesempatan selalu minta di penuhi hasrat duniawainya. Mulai dari baju-baju model terbaru hingga sikat gigi lucu seperti milik temanku.</p>
<p>Gemulai rancak seorang gadis pelayan di sebuah warung nasi padang mengalihkan perhatianku dari hidangan yang sedang disantap dengan nikmat oleh adik-adik dan seluruh keluarga tetanggaku. Aku hanya bisa berbasa basi dengan mengatakan perutku masih kenyang, meskipun perutku meronta-ronta kelaparan. Aku memaksa perutku bersabar, Allah akan mengganti dengan yang lebih lezat bila kita mau bersabar, bisikku pada si perut. Padahal kalau aku mau jujur, nasi yang terakhir masuk ke perutku adalah 20 jam yang lalu.</p>
<p>Dua puluh empat jam kemudian, saat itu pagi masih remang. Aroma embun yang masih menyelimuti rerumputan, serta hawa sejuk kota lambaro yang masih lengang seolah menyambutku dalam dekapan dengan tatapan dingin menghujam. Ya, kota banda aceh mulai menyambutku sambil menggeliat, seolah meyakinkanku kembali benarkah seorang aku akan bisa kembali menikmati hiruk pikuk dunia perkuliahan yang terkadang kejam tapi di saat lain juga teramat sangat menyenangkan ? ah, kucoba kembali menelusuri alasan-alasan dan tekad-tekad aku kembali ke sini, kota pelajar Darussalam ini. Ya, aku harus lulus dan menjadi sarjana, aku akan memberantas kemiskinan dan kebodohan yang telah begitu melekat dalam diriku dan warga kampungku. Tetapi kemudian aku terhenyak, terjajar oleh terjangan angin sepoi-sepoi yang menjadi demikian kencang akibat gaya&#8230; kinetik kendaraan yang kutumpangi. Bukan, bukan angin dingin yang telah bercampur dengan janin polusi yang akan menjadi dewasa sebelum siang nanti. Tapi aku terjajar karena aku tersadar, berapa peser yang aku punya untuk menutupi akumulasi kebutuhanku selama menyelesaikan studi?</p>
<p>Jangankan akumulasi untuk beberapa tahun mendatang, untuk hari ini pun otakku sudah ruwet, bingung menghitung. Bukan karena peserku berlebih, melainkan karena kosong melompong yang ketika kubagi dengan akumulasi kebutuhanku berbanding terbalik seperti kutub utara dengan selatan.</p>
<p>Tetapi, setelah berbagai uraian pelik dan mencederai emosi di atas, hari ini aku dengan segala kebanggaanku, tiga setengah tahun kemudian, mampu berjalan melenggang di trotoar kampus dengan harapan setahun mendatang aku bisa melenggang di podium kehormatan dengan mengenakan toga kebanggan seorang sarjana. Tapi apa daya, hanya selama satu jam aku ditemani derai tawa, karena kemudian dengan sangat tidak terduga, hari ini kuhabiskan dalam derai air mata.<br />
Bukan kemiskinan dan kesedihan penyebabnya. Tapi perasaan terluka yang kuyakin akan menganga selamanya hingga aku tua. Hari ini aku menghadapi pengadilan dosen. Ya, akulah tersangkanya. Aku sebagai tertuduh dengan dakwaan telah memanipulasi nilai. Aku terluka. Bukan karena aku terhukum, tapi aku terluka karena aku tidak mengerti hukum. Berbeda dengan pengadilan lainnya, di sini aku berbicara, tetapi semua telinga tertutup untuk suaraku. Hanya suara dari para penuntut yang bergaung, dan satu lagi tak ada hakim. Aku berusaha mencari pembela, hingga tirai malam menutup disertai rinai hujan merintik, aku masih belum melihat sang hakim yang Maha Perkasa bekerja. Kebenaran itu masih tertutup selimut ego segelintir orang yang punya kuasa.<br />
Tidak. Bukan uang, kesepian, kesedihan, kebodohan, ataupun kesengsaraan lain yang kurasakan akibat murkanya alam yang kusangka akan mematahkan semangatku untuk meraup ilmu dan gelar kesarjanaan, semua itu begitu gampang kulewatkan. Tetapi hari ini aku tersadar, aku telah terluka, dan belum ada seorang pun yang menyadari seberapa dalam luka yang telah ditimbulkan. Aku hidup, tapi semangatku menguap, hilang. Hanya tersisa bekas-bekas kehitaman karena semangat hari-hari lalu yang telah begitu kuat kupatri di benakku. Mereka tercerabut, lepas.. seperti lumut yang rapuh tapi berusaha terlalu kuat menempel ke bumi, sehingga ketika tercabut mereka berusaha menarik apa yang ada dalam cengkeraman mereka.<br />
Haruskah bertambah daftar nama-nama pengangguran yang telah begitu panjang di catatan negeri ini dengan namaku.. Haruskah aku menjadi salah seorang di antara sekian juta rakyat yang apabila ada pemilihan kepala Negara tidak dapat ikut serta, karena seandainya peraturan tentang kepala Negara harus bertitel sarjana jadi disahkan.. karena setelah sekian lama aku bertahan, hari ini pohon tekadku tumbang. Terhempas, dengan hanya menyisakan sedikit kesempatan untuk kembali tumbuh. Adakah sedikit kesempatan itu mampu bertahan.. Hanya waktu, uang, dan kekuasaan yang mampu menjawabnya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mudebersah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mudebersah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=44&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/kalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0e2f4ddf664dbe357aa467e2bc8c57f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudebersah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desaku</title>
		<link>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/desaku/</link>
		<comments>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/desaku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 16:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mudebersah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mudebersah.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Panggong. Sebuah desa nun jauh di tengah belantara rimba ulu masen, Aceh Jaya, dulunya menjadi bagian dari kabupaten Aceh Barat, belakangan kembali dihebohkan dengan penemuan gunung emasnya. Banyak orang dari berbagai kalangan kini berduyun-duyun ikut serta mengeksploitasi gunung yang dulu kutahu dinamakan Gunoeng Ujeun, karena hampir setiap saat disana kabarnya selalu turun hujan. Aku setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=40&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Panggong. Sebuah desa nun jauh di tengah belantara rimba ulu masen, Aceh Jaya, dulunya menjadi bagian dari kabupaten Aceh Barat, belakangan kembali dihebohkan dengan penemuan gunung emasnya. Banyak orang dari berbagai kalangan kini berduyun-duyun ikut serta mengeksploitasi gunung yang dulu kutahu dinamakan Gunoeng Ujeun, karena hampir setiap saat disana kabarnya selalu turun hujan. Aku setiap pagi dan ketika sore menjelang sering melamun sambil menikmati view ke arah jajaran pegunungan tersebut.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Aku tumbuh dan menjadi anak-anak di sana. Hanya sampai umur delapan tahun keluargaku tinggal di desa Panggong. Masa kecil yang singkat bukan berarti tidak ada yang patut diceritakan. Aku secara sadar merasa bangga dan bahagia pernah menjadi bagian dari pelosok negeri yang begitu indahnya. Masa kecilku kuhabiskan dengan menerobos setiap sudut semak-semaknya, merasakan tekstur setiap butir pasirnya, menikmati segarnya air yang mengalir di sungainya, menghirup setiap udara yang berhembus, merasakan setiap tiupan angin yang melambaikan ilalang, membawa serta aroma rumput segar dan aroma kubangan, aku terpesona dengan rasa itu semua setelah sekian lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Indah.. Ketika beranjak dewasa dan telah lama pergi dari sana baru aku menyadari betapa indahnya desaku. Meskipun jauh dari peradaban dan gemerlapnya kehidupan kota, tapi ilmu tentang dasar-dasar kehidupan sebagian besar kudapatkan dari sana.<br />
Aku dan teman-temanku belajar berenang bukan di kolam renang cantik berlapis keramik, tetapi di air sungai yang keruh dan berwarna kuning pekat, yaitu di sungai krueng Sabee yang mengalir membelah desaku. Sebagian besar hidup masa kecilku kuhabiskan dengan mengeksplorasi setiap sisi sungai tersebut. Dua kali aku hampir meregang nyawa karena jatuh dan terseret arus yang deras ketika kami mandi-mandi di sungai.<br />
Tidak ada buah-buahan liar yang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai yang bisa luput dari incaran kami. Hingga saat ini aku masih penasaran dengan buah Puntie yang dulu sering kami perebutkan ketika mendapatinya terhanyut bersama aliran sungai yang selalu deras. Buah itu tidak bisa kutemukan dimanapun sejak terakhir kali aku menemukannya terhanyut di sungai lima belas tahun yang lalu, konon katanya pohon tersebut hanya tumbuh di hutan yang rimbun dan gelap dengan pohon tinggi-tinggi yang tidak dapat dilihat pucuknya dari bawah dan terdapat di hulu sungai itu.</p>
<p>Di desaku tidak ada kebun binatang yang bisa dikunjungi. Bila ingin mengenal hewan tidak perlu ke kebun binatang, cukup membuka jendela ketika magrib menjelang, maka di pekarangan rumah yang berada dekat hutan akan terlihat babi liar berseliweran dengan santainya. Aku terbiasa dengan kicau berbagai jenis burung sehingga tidak pernah kuperhatikan. Di halaman rumahku yang kebetulan menyatu dengan komplek sekolah dasar negeri panggong terdapat semak-semak setinggi pinggang orang dewasa. Saat senja Ayah sering mengajakku menangkap burung puyuh liar dengan menggunakan jaring ikan. Bila sedang mujur kami bisa membawa pulang setengah karung burung puyuh segar hanya dari halaman.</p>
<p>Warga desa Panggong sangat sedikit dan setiap orang mampu saling mengenal dengan baik. Aku terakhir kali berkunjung kesana ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, lebih kurang sepuluh tahun yang lalu. Saat itu waktu seolah tidak bergerak, desaku selalu sama. Sedikit sekali berubah. Aku masih dapat merasakan panas dan terik matahari yang sama. Kicau burung yang sama, deru suara air sungai yang mengalir juga masih tetap sama. Yang membedakan hanya kondisinya yang jauh lebih lengang dibandingkan dengan ketika aku masih menjadi warga kecilnya.</p>
<p>Dulu deru mesin mobil, chain shaw alat pemotong kayu, lalu lalang trailer/tronton dari perusahaan penebang kayu raksasa yang memilki HPH menjadi penyumbang debu dan bising nomor satu di desaku. Belakangan aku tau perusahaan itu telah ditutup karena krisis ekonomi dan konflik berkepanjangan yang terjadi di bumi Aceh.</p>
<p>Selebihnya aku berani mengatakan desaku indah, damai dan permai.</p>
<p>Indah.. bukan berarti sempurna. Desaku jauh dari sempurna, tidak terskala.. bebas.. aturan sangat sedikit berlaku disana. Soal agama sangat sedikit yang dapat ditangkap, diserap dan dipelajari oleh warga desaku. Ini terbukti dari kondisi satu-satunya menasah yang ada disana. Sebagian besar fungsi menasah itu hanya untuk tempat berlindung kambing dan sapi yang kehujanan. Bangunan dari batu bata berbentuk persegi itu tidak pernah selesai dibangun. Meunasah itu terletak di tengah-tengah desa. Jarang sekali terdengar adzan berkumandang dari sana, atau bahkan tidak pernah? Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa aku pernah shalat di meunasah itu, tapi aku yakin memang sangat jarang ada shalat berjamaah, dan dari yang sedikit itu aku sama sekali tidak terlibat. aku teringat keluhan ibuku ketika bulan puasa, beliau jarang terbangun karena sama sekali tidak ada suara atau keributan yang lazim terdengar di setiap kampung ketika menjelang sahur. Meunasah itu selalu tenang dan damai, jarang ada kegiatan. Dengan kata lain, tidak berfungsi.</p>
<p>Anehnya lagi, tepat di depan meunasah dibangun sebuah pondok untuk meronda. Tapi seiring waktu pondok itu beralih fungsi menjadi arena perjudian. Aku ingat sering tertidur saat menunggui ayahku main batu atau main kartu hingga subuh menjelang. Tidak ada yang bisa atau mau mencegah terjadinya kebobrokan moral di desaku. Kebetulan sekali, kepala desanya pada masa itu buta huruf.</p>
<p>Kuakui, warga desaku minim aturan dan etika, tapi lepas dari sana aku belajar untuk melihat secara terbuka betapa indahnya hidup beretika.<br />
Pada tahun-tahun selanjutnya kudengar kabar, desaku menjadi basis bagi gerakan separatis. Kondisinya menjadi porak-poranda. Banyak diantara warga yang memilih ikut berduyun-duyun mengungsi ke iibukota kecamatan. Malangnya dalam pengungsian mereka dihantam gelombang tsunami pada 2004, banyak sekali yang tidak diketahui nasibnya.</p>
<p>Aku sangat rindu untuk kembali kesana. Rindu ingin menikmati desau angin yang melewati padang rumput di dekat pekuburan, memetik pakis menjelang sore untuk dijadikan lauk pada malam harinya, menangkap udang dengan tangan kosong di delta-delta dan pulau-pulau pasir yang banyak terdapat sepanjang aliran sungainya, pergi ke gua Naga tanpa mengetahui seberapa terkenalnya gua tersebut, menikmati madu yang baru dipetik dengan lebah hidup yang masih bergelayutan di sarangnya, mendengar cerita orang yang dimakan buaya dan menyaksikan sendiri korbannya tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku rindu kebodohan seperti pada masa itu. Polos&#8230; hanya sedikit beban&#8230; kapan ku bisa kembali&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mudebersah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mudebersah.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mudebersah.wordpress.com&amp;blog=5538626&amp;post=40&amp;subd=mudebersah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mudebersah.wordpress.com/2009/05/25/desaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d0e2f4ddf664dbe357aa467e2bc8c57f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mudebersah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
