Agar Anak Patuh

21 11 2010

Kemarin saat arisan keluarga, ada seorang Tengku, disebut juga Kiyai atau seorang Mubaligh, berceramah. Bila anak kita ingin patuh dan senang kepada orang tuanya, maka harus dilakukan tiga poin sebagai berikut:

Advertisements




Kalah

25 05 2009

Angin malam menyerbu tiap lekuk, menghunjam ke tulang dan sendi di pergelangan tanganku yang tidak dapat kututup dengan baju usang yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari ukuran yang biasa kupakai. Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan mengeluh, meskipun ribuan nyamuk beserta dengungannya juga ikut melemahkan tekadku. Malam ini aku akan menyonsong masa depan setelah terpuruk begitu dalam

Tidak, gangguan kecil ini kucoba yakini sebagai anugerah dan pertanda dari Allah untuk mempertegas bahwa aku masih bisa berseliweran di atas muka bumi ini, tidak seperti ayah, ibu, tetangga, dan hampir sebagian besar warga kampungku yang telah lenyap tertelan gelombang yang apabila diliat dari sisi manapun dari otakku tetaplah sebuah gelombang yang maha jahat.

Tidak, kesabaranku malam ini adalah tiket yang paling menentukan menuju masa depan yang semoga saja bisa lebih cemerlang. Malam ini aku bertekad, takdir dan tsunami tidak akan mampu mematahkan semangatku untuk menggapai jenjang kehidupan dimana aku bisa masuk dalam golongan berada di atas garis kemiskinan dan di kolom pendidikan tertera lulusan perguruan tinggi ketika di sensus.
Read the rest of this entry »





Desaku

25 05 2009

Panggong. Sebuah desa nun jauh di tengah belantara rimba ulu masen, Aceh Jaya, dulunya menjadi bagian dari kabupaten Aceh Barat, belakangan kembali dihebohkan dengan penemuan gunung emasnya. Banyak orang dari berbagai kalangan kini berduyun-duyun ikut serta mengeksploitasi gunung yang dulu kutahu dinamakan Gunoeng Ujeun, karena hampir setiap saat disana kabarnya selalu turun hujan. Aku setiap pagi dan ketika sore menjelang sering melamun sambil menikmati view ke arah jajaran pegunungan tersebut.
Read the rest of this entry »





doa

19 01 2009

Isi cerita ini bukan ingin mengartikan apa itu doa dan bukan pula mengajarkan kiat untuk berdoa, hanya saja tulisan ini merupakan sebuah cerita yang berkaitan dengan doa.

Isi postingan ini dilhami kejadian yang menurut saya lucu, namun inti cerita ini tak berhubungan dengan kelucuan itu.

Saat itu, seperti biasa,  setiap waktu shalat Dhuhur tiba, saya akan beranjak dari kursi pekerjaan saya dan melangkah ke arah barat. Karena kedudukan tempat saya merupakan back azimuth dari arah kiblat, jadi saya merasakan diri di arah timur. Di arah barat ini beradalah sebuah mushalla. Mushalla ini berada di komplek perkantoran pemerintah daerah kabupaten Pidie. Ya, mushalla kantor Bupati, begitu kami menyebutnya. Mushalla ini menjadi tempat favorit saya ketika waktu Dhuhur tiba, padahal di tempat saya bekerja juga sering diselenggarakan shalat berjamaah. Namun mushalla ini punya kelebihan, yaitu setiap selesai shalat digelar sebuah tausiyah atau ceramah singkat untuk pembelajaran. Ini alasan kuat hingga saya sering mengambil shalat di sini.

Hari itu, selesai shalat Dhuhur, tausiyah diberikan oleh Abu Teupin Raya, seorang ulama yang kharismatik di daerah ini.  Nama “Abu Teupin Raya” adalah sebuah  sebutan atau julukan, Abu, sebutan untuk seorang yang dihormati, berasal dari Bahasa Arab yang bermakna Bapak.  Sedangkan Teupin Raya adalah nama sebuah wilayah di Kabupaten Pidie.

Hari itu Abu bercerita tentang seorang Gubernur di masa kejayaan Islam lampau. Gubernur ini bernama Ibrahim bin Adam dan setelah selesai menjabat Gubernur beliau menjadi ahli ibadah. Suatu hari ada ada orang yang bertanya kepada Abu Ishaq, sebutan untuk Ibrahim bin Adam. Sebelum melanjutkan, Abu Teupin Raya menjelaskan, “bila dalam bahasa dan budaya Arab, kata Abu Ishaq bermakna bahwa Ishaq adalah anak dari Ibrahim bin Adam, terminologi ini sama dan sering dipakai oleh saudara kita Suku Gayo, Kalau di Gayo sebutannya adalah Aman Ishaq”, begitu Abu Tepin Raya menambahkan. Mungkin kalau Abu telah pergi ke Nias, terminologi ini juga dipakai di sana. Tapi kalau di Nias, sebutannya Ama Ishaq.

Melanjutkan lagi ceritanya. Orang itu bertanya kepada Abu Ishaq, “Wahai Abu Ishaq, mengapa saya selalu berdoa namun seakan-akan doa itu tak pernah ditanggapi oleh Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Pemurah, padahal doa itu telah beberapa kali kita panjatkan”. Mendengar itu Abu Ishaq menjawab, “ada sepuluh hal yang membuat doa kita itu tak dikabulkan oleh Allah, yaitu”:

  1. Kita selalu menyebut nama Allah, tapi kita jauh darinya
  2. Kita selalu membaca Al-Quran, tapi tak pernah diamalkan
  3. Kita selalu menjauhi Syetan namun tanpa sadar kita menariknya dekat
  4. Kita selalu merindukan surga, namun kita menjauhinya
  5. Kita selalu berusaha mentauladani Muhammad, tapi kita menjauhinya
  6. Kita berkeinginan menjauhi neraka, tapi tanpa sadar neraka it selalu kita ikuti
  7. Kita selalu diberi nikmat, namun tak pernah mensyukurinya
  8. Kita selalu menyerukan aib orang, namun lupa aib sendiri
  9. Kita selalu melihat jenazah, namu  lupa kita juga akan menjadi jenazah

Itulah riwayat dari kisah Abu Ishaq yang ditanyai oleh warganya. Kalau diperhatikan, sebenarnya ada sepuluh perkara yang membuat doa kita itu tidak dikabul oleh Allah, namun saya lupa mengingatnya. Padahal waktu itu, saya menghidupkan HaPe saya dan mencatatnya di fitur “write message”, tapi tetap saja saya lupa, maklum saja saya menghidupkan HaPe setelah tausiyah berjalan setengah. Nah, kelucuan itu berlangsung saat saya menunggu Abu untuk menanyakan satu poin yang tertinggal, lama saya menunggu hingga beliau beranjak keluar. Sesampai di muka pintu, saya menanyakan “Abu saya lupa poin yang satu lagi”, sambil menyebut yang sudah saya catat. Tapi Abu hanya menjawab, ” O, saya sudah lupa”. Padahal buku catatan beliau masih ada di kantong bajunya…

Untuk ini saya hanya berprasangka baik saja, bahwa sering sekali kita lupa mencatat hal yang remeh padahal itu berguna seumur hidup.





menulis blog

9 01 2009

Sejak kecil udah sering menulis, walau menulis sesuatu cerita yang lebih tepatnya disebut mengarang. Di sekolah dasar dahulu salah satu kegiatan belajar yang saya senangi adalah mengarang, apakah mengarang bebas atau tak bebas sekalipun. Salah satu tema yang paling saya senangi adalah berwisata, dan sering memakai kata “desa” untuk judul cerita. Ingin sekali melihat kembali semua hal yang telah tercoret di dalam buku tulis. Namun sayang, dulu tak seperti sekarang, media penyimpan sangat kurang, hingga semua catatan itu hilang entah kemana.  Padahal itu bukan alasan sih, tapi demikian adanya, kita selalu sadar pada saat mengenang sesuatu yang lucu dan membuat kita tersenyum sendiri.

Namun, kesukaan menulis ini tak berlanjut juga untuk terus kontinyu menulis dan menulis. Hanya menulis pada saat ingin saja. Hingga kata menulis itu hanya perbuatan di “kepala” saja tanpa ada hasil. Anehnya bila ditanya sama orang lain atau pada saat mengisi biodata (apa saja), “menulis” adalah salah satu jawaban untuk item pertanyaan “hobi”. Sesadarnya, dari kecil sangat kagum dengan pengarang dan wartawan yang bisa menulis dan bisa membuat orang membaca dengan hati riang gembira.

Saat ini juga tak begitu berbeda, menulis masih menjadi hal yang ingin  dilakukan, apalagi sekarang terdapat beberapa media gratis yang bisa mempublikasikan tulisan sendiri. Seperti blog, misalnya. Saat ini juga blog di Indonesia sudah sangat menjamur apalagi kemudahan mengakses internet sangat nyata mudahnya sekarang ini.

Menjadi penulis tidaklah mudah, apalagi predikat “menulis” itu tidak datang dengan sendirinya dan harus ada uji publik, ya, publik-lah yang menilai produk tulisan kita apakah dapat diterima menjadi opini umum atau tidak. Publik secara keseluruhan-lah yang menunjang kita dapat menjadi penulis atau tidak. Terminologi penulis memang hanya akan membuat kita berfikir penulis merupakan profesi dan harus membuat sebuah produk kontinyu. Bila melihat pengertian di atas, orang dapat dikatakan menjadi penulis bila dia mempunyai media pencurahan seperti buku. Namun penulis itu bisa menjadi menjadi mudah dan tidak harus menjadikan buku sebagai media pencurahan ide dan opini diri untuk diketahui opinik ramai seperti publik. Menurut saya menjadi penulis itu dapat dipersempit dengan hal yang tematik seperti penulis opini, penulis sajak, dan penulis buku. Tentu saja dengan frekuensi yang kontinyu dan kualitas yang memadai untuk mencurahkan ide secara tematik. Apalagi zaman internet saat ini, bisa saja kita membangun diri untuk menjadi seorang penulis blog.

Blog merupakan terminologi yang berasal dari web log, sebuah web yang berisikan catatan penulis web yang dapat merubah isi tulisannya setiap dia inginkan. Pada saat ini blog sudah menjadi tren bagi pengguna internet, selain banyak provider yang menyediakan blog gratis. Jadi, menjadi penulis itu saat ini (saya yakin) tidak harus menjadi penulis yang berorientasi pada media publik seperti koran, majalah, dan buku, Ya mulailah dari yang kecil dahulu yaitu blog. Tulis dan catatlah apa yang ada di ‘tangan’ kita. Mulailah lagi dengan mengarang dan bercerita tentang wisata ke desa sewaktu kita kecil dahulu. 





gempa bumi

22 12 2008

This memo is just only a memo, it is not a fruit of research, and it is a fruit of my mind.

Ya benar sekali ini hanya pengantar untuk cerita kecil hari ini. Cerita ini terbetik setelah beberapa menit bumi di belahan Aceh digoyang gempa “ringan” tadi malam. Setelah kontak dengan beberapa keluarga di belahan kabupaten lain, hasilnya mereka juga mengatakan ada gempa.

Aceh (tanpa mengecilkan yang dialami Nias dan Yogya, juga daerah lain di Nusantara) sejak empat tahun lalu sudah bisa disebut sebagai negeri gempa, (sebutan ini tentu saja juga hanya opini belaka), bagaimana tidak sepanjang tahun 2005 saja, tiada hari tanpa gempa, dan kata ahli di BMG, itu merupakan gempa susulan dari gempa dan tsunami 26 Desember empat tahun lalu. Sampai ada jargon yang tersimpan, “kalau tak ada gempa tak enak tidur”.Nah, tadi malam ada gempa lagi, walau tak kencang dan kuat, cukuplah untuk mengejutkan hati yang telah lama terlena karena tak pernah lagi merasakan gempa.

Tapi mengapa gempa itu datang? Walau sebuah gejala alam yang tak bisa diprediksi, begitu para ahli menyebutnya, namun dia datang pasti dengan adanya sebab. Menurut diskusi di sebuah warung kopi, ada yang bilang gempa datang itu karena ada patahan yang terus bergerak dan menumbuk patahan lainnya. Proses penumbukan itu yang dapat mengakibatkan gempa. Setelah proses penumbukan itu selesai maka selesai pula getaran yang diakibatkannya. Selesainya proses penumbukan lempengan itu karena telah terjadinya konsolidasi antara mereka sehingga tak ada lagi dorong-mendorong. Walhasil, ada sebuah kebenaran di sini. Gempa itu datang untuk menjalankan tugasnya menstabilkan bumi. Bukan sebaliknya, karena pergerakan lempeng atau patahan itu merupakan proses dia untuk tetap stabil dengan mencari posisi yang benar. Jadi wajar gempa itu dapat terjadi, karena patahan itu terus saja bergerak walau kecepatannya hanya 20 mm/tahun.Nah, yang harus diwaspadai, bila negeri Anda berada di wilayah lempengan yang rawan, maka kalau sudah lama sangat tidak terjadi getaran, maka hati-hati, energi yang dilepaskannya akan sangat besar (ini opini diri lho)
Paradoks-kan dengan kejadiannya di permukaan bumi bila gempa datang, bangunan malah hancur. Itulah evolusi bumi…J





rapat di ruang dewan

19 12 2008

Ini cerita pekan lalu, tepatnya hari Jumat lalu di salah satu kota kabupaten di Nusantara ini. Waktu itu saya sendiri hadir di presentasi sebuah lembaga. Lembaga ini sebuah lembaga asing dan konsentrasi membantu negeri yang porak poranda akibat tsunami khususnya di bidang dukung untuk pemerintah lokal. Oya, lembaga ini prentasi di gedung dewan. Tau kan Dewan? Inti ceritanya ini lho…
Cerita ini tak penting namun sangat lucu kalau saya pikir. Lembaga ini punya niat yang mulia untuk pesentasi hasil kerja keras mereka di wilayah tersebut kepada para anggota dewan. Mereka punya niat, setelah mereka tidak lagi di wilayah itu, pemerintah di sana ada niat tidak untuk tindak lanjut kerja mereka. Salah satu cara, presentasi ke para anggota dewan dan nanti mereka (dewan) akan sahkan anggaran untuk aktivitas itu di kemudian hari.
Namun, presentasi untuk exit strategy ini hanya ada di diri lembaga asing, khususnya presenter dan para officer-nya. Para dewan hanya dengar di sepuluh menit pertama, selanjutnya “presentasi” di meja masing-masing.
Ketawa dan gosip sambil “kik…kik…kik”, (ini ibu dewan lho). Saya yang di belakang, oya saya hanya tamu, hanya dengar ocehan dewan yang tidak ada sangkut pautnya dengan tema. Namun pada sesi Tanya jawab dan diskusi, semua pada protes dan pesimis.
Yang ada di benak saya, apa iya mereka itu wakil rakyat?