Desaku

25 05 2009

Panggong. Sebuah desa nun jauh di tengah belantara rimba ulu masen, Aceh Jaya, dulunya menjadi bagian dari kabupaten Aceh Barat, belakangan kembali dihebohkan dengan penemuan gunung emasnya. Banyak orang dari berbagai kalangan kini berduyun-duyun ikut serta mengeksploitasi gunung yang dulu kutahu dinamakan Gunoeng Ujeun, karena hampir setiap saat disana kabarnya selalu turun hujan. Aku setiap pagi dan ketika sore menjelang sering melamun sambil menikmati view ke arah jajaran pegunungan tersebut.

Aku tumbuh dan menjadi anak-anak di sana. Hanya sampai umur delapan tahun keluargaku tinggal di desa Panggong. Masa kecil yang singkat bukan berarti tidak ada yang patut diceritakan. Aku secara sadar merasa bangga dan bahagia pernah menjadi bagian dari pelosok negeri yang begitu indahnya. Masa kecilku kuhabiskan dengan menerobos setiap sudut semak-semaknya, merasakan tekstur setiap butir pasirnya, menikmati segarnya air yang mengalir di sungainya, menghirup setiap udara yang berhembus, merasakan setiap tiupan angin yang melambaikan ilalang, membawa serta aroma rumput segar dan aroma kubangan, aku terpesona dengan rasa itu semua setelah sekian lama.

Indah.. Ketika beranjak dewasa dan telah lama pergi dari sana baru aku menyadari betapa indahnya desaku. Meskipun jauh dari peradaban dan gemerlapnya kehidupan kota, tapi ilmu tentang dasar-dasar kehidupan sebagian besar kudapatkan dari sana.
Aku dan teman-temanku belajar berenang bukan di kolam renang cantik berlapis keramik, tetapi di air sungai yang keruh dan berwarna kuning pekat, yaitu di sungai krueng Sabee yang mengalir membelah desaku. Sebagian besar hidup masa kecilku kuhabiskan dengan mengeksplorasi setiap sisi sungai tersebut. Dua kali aku hampir meregang nyawa karena jatuh dan terseret arus yang deras ketika kami mandi-mandi di sungai.
Tidak ada buah-buahan liar yang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai yang bisa luput dari incaran kami. Hingga saat ini aku masih penasaran dengan buah Puntie yang dulu sering kami perebutkan ketika mendapatinya terhanyut bersama aliran sungai yang selalu deras. Buah itu tidak bisa kutemukan dimanapun sejak terakhir kali aku menemukannya terhanyut di sungai lima belas tahun yang lalu, konon katanya pohon tersebut hanya tumbuh di hutan yang rimbun dan gelap dengan pohon tinggi-tinggi yang tidak dapat dilihat pucuknya dari bawah dan terdapat di hulu sungai itu.

Di desaku tidak ada kebun binatang yang bisa dikunjungi. Bila ingin mengenal hewan tidak perlu ke kebun binatang, cukup membuka jendela ketika magrib menjelang, maka di pekarangan rumah yang berada dekat hutan akan terlihat babi liar berseliweran dengan santainya. Aku terbiasa dengan kicau berbagai jenis burung sehingga tidak pernah kuperhatikan. Di halaman rumahku yang kebetulan menyatu dengan komplek sekolah dasar negeri panggong terdapat semak-semak setinggi pinggang orang dewasa. Saat senja Ayah sering mengajakku menangkap burung puyuh liar dengan menggunakan jaring ikan. Bila sedang mujur kami bisa membawa pulang setengah karung burung puyuh segar hanya dari halaman.

Warga desa Panggong sangat sedikit dan setiap orang mampu saling mengenal dengan baik. Aku terakhir kali berkunjung kesana ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, lebih kurang sepuluh tahun yang lalu. Saat itu waktu seolah tidak bergerak, desaku selalu sama. Sedikit sekali berubah. Aku masih dapat merasakan panas dan terik matahari yang sama. Kicau burung yang sama, deru suara air sungai yang mengalir juga masih tetap sama. Yang membedakan hanya kondisinya yang jauh lebih lengang dibandingkan dengan ketika aku masih menjadi warga kecilnya.

Dulu deru mesin mobil, chain shaw alat pemotong kayu, lalu lalang trailer/tronton dari perusahaan penebang kayu raksasa yang memilki HPH menjadi penyumbang debu dan bising nomor satu di desaku. Belakangan aku tau perusahaan itu telah ditutup karena krisis ekonomi dan konflik berkepanjangan yang terjadi di bumi Aceh.

Selebihnya aku berani mengatakan desaku indah, damai dan permai.

Indah.. bukan berarti sempurna. Desaku jauh dari sempurna, tidak terskala.. bebas.. aturan sangat sedikit berlaku disana. Soal agama sangat sedikit yang dapat ditangkap, diserap dan dipelajari oleh warga desaku. Ini terbukti dari kondisi satu-satunya menasah yang ada disana. Sebagian besar fungsi menasah itu hanya untuk tempat berlindung kambing dan sapi yang kehujanan. Bangunan dari batu bata berbentuk persegi itu tidak pernah selesai dibangun. Meunasah itu terletak di tengah-tengah desa. Jarang sekali terdengar adzan berkumandang dari sana, atau bahkan tidak pernah? Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa aku pernah shalat di meunasah itu, tapi aku yakin memang sangat jarang ada shalat berjamaah, dan dari yang sedikit itu aku sama sekali tidak terlibat. aku teringat keluhan ibuku ketika bulan puasa, beliau jarang terbangun karena sama sekali tidak ada suara atau keributan yang lazim terdengar di setiap kampung ketika menjelang sahur. Meunasah itu selalu tenang dan damai, jarang ada kegiatan. Dengan kata lain, tidak berfungsi.

Anehnya lagi, tepat di depan meunasah dibangun sebuah pondok untuk meronda. Tapi seiring waktu pondok itu beralih fungsi menjadi arena perjudian. Aku ingat sering tertidur saat menunggui ayahku main batu atau main kartu hingga subuh menjelang. Tidak ada yang bisa atau mau mencegah terjadinya kebobrokan moral di desaku. Kebetulan sekali, kepala desanya pada masa itu buta huruf.

Kuakui, warga desaku minim aturan dan etika, tapi lepas dari sana aku belajar untuk melihat secara terbuka betapa indahnya hidup beretika.
Pada tahun-tahun selanjutnya kudengar kabar, desaku menjadi basis bagi gerakan separatis. Kondisinya menjadi porak-poranda. Banyak diantara warga yang memilih ikut berduyun-duyun mengungsi ke iibukota kecamatan. Malangnya dalam pengungsian mereka dihantam gelombang tsunami pada 2004, banyak sekali yang tidak diketahui nasibnya.

Aku sangat rindu untuk kembali kesana. Rindu ingin menikmati desau angin yang melewati padang rumput di dekat pekuburan, memetik pakis menjelang sore untuk dijadikan lauk pada malam harinya, menangkap udang dengan tangan kosong di delta-delta dan pulau-pulau pasir yang banyak terdapat sepanjang aliran sungainya, pergi ke gua Naga tanpa mengetahui seberapa terkenalnya gua tersebut, menikmati madu yang baru dipetik dengan lebah hidup yang masih bergelayutan di sarangnya, mendengar cerita orang yang dimakan buaya dan menyaksikan sendiri korbannya tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku rindu kebodohan seperti pada masa itu. Polos… hanya sedikit beban… kapan ku bisa kembali…

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: