Kalah

25 05 2009

Angin malam menyerbu tiap lekuk, menghunjam ke tulang dan sendi di pergelangan tanganku yang tidak dapat kututup dengan baju usang yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari ukuran yang biasa kupakai. Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan mengeluh, meskipun ribuan nyamuk beserta dengungannya juga ikut melemahkan tekadku. Malam ini aku akan menyonsong masa depan setelah terpuruk begitu dalam

Tidak, gangguan kecil ini kucoba yakini sebagai anugerah dan pertanda dari Allah untuk mempertegas bahwa aku masih bisa berseliweran di atas muka bumi ini, tidak seperti ayah, ibu, tetangga, dan hampir sebagian besar warga kampungku yang telah lenyap tertelan gelombang yang apabila diliat dari sisi manapun dari otakku tetaplah sebuah gelombang yang maha jahat.

Tidak, kesabaranku malam ini adalah tiket yang paling menentukan menuju masa depan yang semoga saja bisa lebih cemerlang. Malam ini aku bertekad, takdir dan tsunami tidak akan mampu mematahkan semangatku untuk menggapai jenjang kehidupan dimana aku bisa masuk dalam golongan berada di atas garis kemiskinan dan di kolom pendidikan tertera lulusan perguruan tinggi ketika di sensus.

Jika panggilan nasibku memang harus menjadi rakyat jelata, maka biarkanlah aku mengakhiri malam ini dengan harapan, aku dapat menjadi tulang punggung bagi diriku sendiri. Allah tidak pernah meremehkan hamba yang terus berdoa dan berusaha. Doaku malam ini di atas L 300 yang sedang berlari kencang menembus kegelapan dan dinginnya udara kota singkil menuju medan adalah semoga nenek tua renta yang sedang merintih kesakitan di bangku belakang yang telah di susun sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah ranjang, tidak meregang nyawa di perjalanan, agar aku bisa sampai ke medan tanpa harus membayar, karena mobil ini telah dicarter oleh tetanggaku untuk membawa neneknya itu ke rumah sakit di kota tersebut. Jadi aku hanya menumpang.

Tega… Iya, kuakui doaku terdengar terlalu tega bagi mereka yang tidak sedang menghadapi kegamangan karena ditinggal mati kedua orang tua yang selama ini terus menopang dan memasok kiriman uang serta kebutuhan bulananku selama tinggal di kontrakan. Orang tua yang mati tiba-tiba karena tertelan gelombang laut yang murka bukanlah bayangan seorang anak manusia manja dan bodoh sepertiku. Aku seperti dilemparkan ke sebuah hutan di mana setiap pohonnya tidak kukenal, aku tersesat tidak bisa kembali pulang.

Terlebih karena aku tidak punya uang, dan orang tuaku sama sekali tidak meninggalkan warisan. Belakangan kuketahui, rezeki ayahku setiap bulannya selalu tertelan oleh kebutuhan dan rengekan abangku, aku serta adikku yang setiap kesempatan selalu minta di penuhi hasrat duniawainya. Mulai dari baju-baju model terbaru hingga sikat gigi lucu seperti milik temanku.

Gemulai rancak seorang gadis pelayan di sebuah warung nasi padang mengalihkan perhatianku dari hidangan yang sedang disantap dengan nikmat oleh adik-adik dan seluruh keluarga tetanggaku. Aku hanya bisa berbasa basi dengan mengatakan perutku masih kenyang, meskipun perutku meronta-ronta kelaparan. Aku memaksa perutku bersabar, Allah akan mengganti dengan yang lebih lezat bila kita mau bersabar, bisikku pada si perut. Padahal kalau aku mau jujur, nasi yang terakhir masuk ke perutku adalah 20 jam yang lalu.

Dua puluh empat jam kemudian, saat itu pagi masih remang. Aroma embun yang masih menyelimuti rerumputan, serta hawa sejuk kota lambaro yang masih lengang seolah menyambutku dalam dekapan dengan tatapan dingin menghujam. Ya, kota banda aceh mulai menyambutku sambil menggeliat, seolah meyakinkanku kembali benarkah seorang aku akan bisa kembali menikmati hiruk pikuk dunia perkuliahan yang terkadang kejam tapi di saat lain juga teramat sangat menyenangkan ? ah, kucoba kembali menelusuri alasan-alasan dan tekad-tekad aku kembali ke sini, kota pelajar Darussalam ini. Ya, aku harus lulus dan menjadi sarjana, aku akan memberantas kemiskinan dan kebodohan yang telah begitu melekat dalam diriku dan warga kampungku. Tetapi kemudian aku terhenyak, terjajar oleh terjangan angin sepoi-sepoi yang menjadi demikian kencang akibat gaya… kinetik kendaraan yang kutumpangi. Bukan, bukan angin dingin yang telah bercampur dengan janin polusi yang akan menjadi dewasa sebelum siang nanti. Tapi aku terjajar karena aku tersadar, berapa peser yang aku punya untuk menutupi akumulasi kebutuhanku selama menyelesaikan studi?

Jangankan akumulasi untuk beberapa tahun mendatang, untuk hari ini pun otakku sudah ruwet, bingung menghitung. Bukan karena peserku berlebih, melainkan karena kosong melompong yang ketika kubagi dengan akumulasi kebutuhanku berbanding terbalik seperti kutub utara dengan selatan.

Tetapi, setelah berbagai uraian pelik dan mencederai emosi di atas, hari ini aku dengan segala kebanggaanku, tiga setengah tahun kemudian, mampu berjalan melenggang di trotoar kampus dengan harapan setahun mendatang aku bisa melenggang di podium kehormatan dengan mengenakan toga kebanggan seorang sarjana. Tapi apa daya, hanya selama satu jam aku ditemani derai tawa, karena kemudian dengan sangat tidak terduga, hari ini kuhabiskan dalam derai air mata.
Bukan kemiskinan dan kesedihan penyebabnya. Tapi perasaan terluka yang kuyakin akan menganga selamanya hingga aku tua. Hari ini aku menghadapi pengadilan dosen. Ya, akulah tersangkanya. Aku sebagai tertuduh dengan dakwaan telah memanipulasi nilai. Aku terluka. Bukan karena aku terhukum, tapi aku terluka karena aku tidak mengerti hukum. Berbeda dengan pengadilan lainnya, di sini aku berbicara, tetapi semua telinga tertutup untuk suaraku. Hanya suara dari para penuntut yang bergaung, dan satu lagi tak ada hakim. Aku berusaha mencari pembela, hingga tirai malam menutup disertai rinai hujan merintik, aku masih belum melihat sang hakim yang Maha Perkasa bekerja. Kebenaran itu masih tertutup selimut ego segelintir orang yang punya kuasa.
Tidak. Bukan uang, kesepian, kesedihan, kebodohan, ataupun kesengsaraan lain yang kurasakan akibat murkanya alam yang kusangka akan mematahkan semangatku untuk meraup ilmu dan gelar kesarjanaan, semua itu begitu gampang kulewatkan. Tetapi hari ini aku tersadar, aku telah terluka, dan belum ada seorang pun yang menyadari seberapa dalam luka yang telah ditimbulkan. Aku hidup, tapi semangatku menguap, hilang. Hanya tersisa bekas-bekas kehitaman karena semangat hari-hari lalu yang telah begitu kuat kupatri di benakku. Mereka tercerabut, lepas.. seperti lumut yang rapuh tapi berusaha terlalu kuat menempel ke bumi, sehingga ketika tercabut mereka berusaha menarik apa yang ada dalam cengkeraman mereka.
Haruskah bertambah daftar nama-nama pengangguran yang telah begitu panjang di catatan negeri ini dengan namaku.. Haruskah aku menjadi salah seorang di antara sekian juta rakyat yang apabila ada pemilihan kepala Negara tidak dapat ikut serta, karena seandainya peraturan tentang kepala Negara harus bertitel sarjana jadi disahkan.. karena setelah sekian lama aku bertahan, hari ini pohon tekadku tumbang. Terhempas, dengan hanya menyisakan sedikit kesempatan untuk kembali tumbuh. Adakah sedikit kesempatan itu mampu bertahan.. Hanya waktu, uang, dan kekuasaan yang mampu menjawabnya.

Advertisements

Actions

Information

One response

28 05 2009
Jaya

nice post. Hidup itu perjuangan, keep fighting. Kita akan memperoleh apa yang kita usahakan. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: