Kalah

25 05 2009

Angin malam menyerbu tiap lekuk, menghunjam ke tulang dan sendi di pergelangan tanganku yang tidak dapat kututup dengan baju usang yang ukurannya dua nomor lebih kecil dari ukuran yang biasa kupakai. Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan mengeluh, meskipun ribuan nyamuk beserta dengungannya juga ikut melemahkan tekadku. Malam ini aku akan menyonsong masa depan setelah terpuruk begitu dalam

Tidak, gangguan kecil ini kucoba yakini sebagai anugerah dan pertanda dari Allah untuk mempertegas bahwa aku masih bisa berseliweran di atas muka bumi ini, tidak seperti ayah, ibu, tetangga, dan hampir sebagian besar warga kampungku yang telah lenyap tertelan gelombang yang apabila diliat dari sisi manapun dari otakku tetaplah sebuah gelombang yang maha jahat.

Tidak, kesabaranku malam ini adalah tiket yang paling menentukan menuju masa depan yang semoga saja bisa lebih cemerlang. Malam ini aku bertekad, takdir dan tsunami tidak akan mampu mematahkan semangatku untuk menggapai jenjang kehidupan dimana aku bisa masuk dalam golongan berada di atas garis kemiskinan dan di kolom pendidikan tertera lulusan perguruan tinggi ketika di sensus.
Read the rest of this entry »

Advertisements




doa

19 01 2009

Isi cerita ini bukan ingin mengartikan apa itu doa dan bukan pula mengajarkan kiat untuk berdoa, hanya saja tulisan ini merupakan sebuah cerita yang berkaitan dengan doa.

Isi postingan ini dilhami kejadian yang menurut saya lucu, namun inti cerita ini tak berhubungan dengan kelucuan itu.

Saat itu, seperti biasa,  setiap waktu shalat Dhuhur tiba, saya akan beranjak dari kursi pekerjaan saya dan melangkah ke arah barat. Karena kedudukan tempat saya merupakan back azimuth dari arah kiblat, jadi saya merasakan diri di arah timur. Di arah barat ini beradalah sebuah mushalla. Mushalla ini berada di komplek perkantoran pemerintah daerah kabupaten Pidie. Ya, mushalla kantor Bupati, begitu kami menyebutnya. Mushalla ini menjadi tempat favorit saya ketika waktu Dhuhur tiba, padahal di tempat saya bekerja juga sering diselenggarakan shalat berjamaah. Namun mushalla ini punya kelebihan, yaitu setiap selesai shalat digelar sebuah tausiyah atau ceramah singkat untuk pembelajaran. Ini alasan kuat hingga saya sering mengambil shalat di sini.

Hari itu, selesai shalat Dhuhur, tausiyah diberikan oleh Abu Teupin Raya, seorang ulama yang kharismatik di daerah ini.  Nama “Abu Teupin Raya” adalah sebuah  sebutan atau julukan, Abu, sebutan untuk seorang yang dihormati, berasal dari Bahasa Arab yang bermakna Bapak.  Sedangkan Teupin Raya adalah nama sebuah wilayah di Kabupaten Pidie.

Hari itu Abu bercerita tentang seorang Gubernur di masa kejayaan Islam lampau. Gubernur ini bernama Ibrahim bin Adam dan setelah selesai menjabat Gubernur beliau menjadi ahli ibadah. Suatu hari ada ada orang yang bertanya kepada Abu Ishaq, sebutan untuk Ibrahim bin Adam. Sebelum melanjutkan, Abu Teupin Raya menjelaskan, “bila dalam bahasa dan budaya Arab, kata Abu Ishaq bermakna bahwa Ishaq adalah anak dari Ibrahim bin Adam, terminologi ini sama dan sering dipakai oleh saudara kita Suku Gayo, Kalau di Gayo sebutannya adalah Aman Ishaq”, begitu Abu Tepin Raya menambahkan. Mungkin kalau Abu telah pergi ke Nias, terminologi ini juga dipakai di sana. Tapi kalau di Nias, sebutannya Ama Ishaq.

Melanjutkan lagi ceritanya. Orang itu bertanya kepada Abu Ishaq, “Wahai Abu Ishaq, mengapa saya selalu berdoa namun seakan-akan doa itu tak pernah ditanggapi oleh Allah Sang Maha Mendengar dan Maha Pemurah, padahal doa itu telah beberapa kali kita panjatkan”. Mendengar itu Abu Ishaq menjawab, “ada sepuluh hal yang membuat doa kita itu tak dikabulkan oleh Allah, yaitu”:

  1. Kita selalu menyebut nama Allah, tapi kita jauh darinya
  2. Kita selalu membaca Al-Quran, tapi tak pernah diamalkan
  3. Kita selalu menjauhi Syetan namun tanpa sadar kita menariknya dekat
  4. Kita selalu merindukan surga, namun kita menjauhinya
  5. Kita selalu berusaha mentauladani Muhammad, tapi kita menjauhinya
  6. Kita berkeinginan menjauhi neraka, tapi tanpa sadar neraka it selalu kita ikuti
  7. Kita selalu diberi nikmat, namun tak pernah mensyukurinya
  8. Kita selalu menyerukan aib orang, namun lupa aib sendiri
  9. Kita selalu melihat jenazah, namu  lupa kita juga akan menjadi jenazah

Itulah riwayat dari kisah Abu Ishaq yang ditanyai oleh warganya. Kalau diperhatikan, sebenarnya ada sepuluh perkara yang membuat doa kita itu tidak dikabul oleh Allah, namun saya lupa mengingatnya. Padahal waktu itu, saya menghidupkan HaPe saya dan mencatatnya di fitur “write message”, tapi tetap saja saya lupa, maklum saja saya menghidupkan HaPe setelah tausiyah berjalan setengah. Nah, kelucuan itu berlangsung saat saya menunggu Abu untuk menanyakan satu poin yang tertinggal, lama saya menunggu hingga beliau beranjak keluar. Sesampai di muka pintu, saya menanyakan “Abu saya lupa poin yang satu lagi”, sambil menyebut yang sudah saya catat. Tapi Abu hanya menjawab, ” O, saya sudah lupa”. Padahal buku catatan beliau masih ada di kantong bajunya…

Untuk ini saya hanya berprasangka baik saja, bahwa sering sekali kita lupa mencatat hal yang remeh padahal itu berguna seumur hidup.